Don’t ask me about Love

“Cinta adalah ketidakpedulian yang buta. Ia bermula dari ujung masa muda dan berakhir pada pangkal masa muda “(Kahlil Gibran)

Cinta itu buta. Ada ungkapan yang bilang seperti itu. Karena jika kita mencintai seseorang, semua yang buruk2 tentang seseorang itu seolah lenyap, yang nampak hanya yang baik. Jika kita mencintai seseorang, kadang semua ratio kita hilang, semua akal sehat kita lenyap. Semua apa yang tak mungkin menjadi mungkin atau dipaksa menjadi mungkin.


Tadi siang ada teman vie yang curhat. Dia baru ditinggalin cowonya karena ada orang lain yang suka dengan cowonya itu sejak dari dulu, dan yang terpenting dia seiman dengan cowonya itu. Lima tahun padahal mereka menjalin hubungan. Wasting time banget ya? Lima tahun perjalanan akhirnya kandas karena masalah yang prinsip itu, perbedaan iman. Yang vie ngga habis pikir, kenapa mereka ngga memikirkan itu ketika pertama kali jalan bareng? Apalagi sejak semula mereka tahu dan sadar bahwa masing2 ngga akan bisa ikut ke kepercayaan yang lain karena latar belakang keluarga mereka sama2 kuat dalam hal agama. Yang lebih tragis lagi, si cowo itu langsung menjalin hubungan lagi dengan cewe lain yang katanya udah lama suka dia dengan alasan dia mau serius menjalin hubungan dengan orang yang seiman. Loh..memangnya dulu dia ngga serius gitu waktu jalan ama teman vie itu?

Yah seperti itu kali cinta. Buta. Ga pernah mikir panjang. Pasti mikirnya, ah itu gampang dipikirin nanti..yang penting jalan dulu.. semua bisa diurus belakangan. Padahal menurut vie kalau menyangkut prinsip apalagi ini masalah iman ngga bisa diurus belakangan. Harus dipikirkan dari awal. Jadi kalau sejak pertama sudah tahu beda harus siap dengan segala konsekwensinya jika nekat jalan terus. Termasuk resiko terburuk kaya temen vie tadi. Lima tahun yang tanpa hasil…hehehe…

Memang sih ada pasangan2 yang beda keyakinan bisa berhasil sampai merid, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. kebanyakan gagal ditengah jalan. Karena masing2 ngga mau atau ngga bisa ngalah ikut ke yang lainnya, ditentang keluarga, ngga siap dengan segala perbedaan yang nanti harus dijalani, atau memang akhirnya sadar sendiri bahwa ngga mungkin buat diterusin.

So daripada wasting time seperti itu, kenapa ngga sejak awal dipikirkan? Bukankah kita menjalin hubungan dengan seseorang inginnya pasti serius untuk jangka panjang dan pasti berharapnya orang tsb adalah orang yang akan menemani sisa usia kita nanti? Jika memang tendensinya seperti itu seharusnya sejak semula semua hal yang menyangkut prinsip itu harus dipikirkan. Ngga cuma buat senang2 aja dulu tus hal itu dikesampingkan. Karena hal seperti itu ngga akan hilang ditelan waktu. Justru hal itu seperti bom waktu yang sewaktu2 meledak menjadi masalah besar. kalau sudah demikian tinggalah gigit jari. Penyesalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: