• Desember 2016
    S S R K J S M
    « Mei    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Top Artikel

    • Tak ada
  • Kunjungan

    • 71,410 hits
  • PhotoQu

    Pueblo Bonito, Chaco Canyon

    The Aged and the Ageless

    Photonic Symphony

    Kuifmees / Crested Tit / Mésange huppée

    Arnhem stationshal

    Lebih Banyak Foto

Bolehkah kita menikahi wanita yang hamil kerana berzina?

Bolehkah kita menikahi wanita yang hamil kerana berzina?

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

(5). Kejadian Yang Kelima : Apabila seorang perempuan berzina kemudian dia hamil, maka bolehkan dia dinikahi oleh lelaki yang tidak menghamilinya? Dan kepada siapakah dinasabkan anaknya?

Jawapannya ; Dalam hal ini para ulama kita telah berselisih menjadi dua madzhab. Madzhab yang pertama mengatakan boleh dan halal dinikahi dengan alasan bahawa perempuan tersebut hamil kerana zina bukan dari hasil nikah. Sebagaimana kita ketahui bahawa syara’ (agama) tidak menganggap sama sekali anak yang lahir dari hasil zina seperti terputusnya nasab dan lain-lain sebagaimana beberapa kali kami jelaskan di muka. Oleh kerana itu halal baginya menikahinya dan menyetubuhinya tanpa harus menunggu perempuan tersebut melahirkan anaknya.

Inilah yang menjadi madzhabnya Imam Syafi’iy dan Imam Abu Hanifah. Hanya saja Abu Hanifah mensyaratkan tidak boleh disetubuhi sehingga perempuan tersebut melahirkan.

Adapun madzhab kedua mengatakan haram dinikahi sehingga perempuan tersebut melahirkan, beralasan kepada beberapa hadits.

Hadits Pertama.
“Ertinya : Dri Abu Darda dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahawasanya beliau pernah melewati seorang perempuan (29) yang sedang hamil tua sudah dekat waktu melahirkan di muka pintu sebuah kemah. Lalu beliau bersabda, “Barangkali dia (30) (yakni lelaki yang memiliki tawanan (31) tersebut) mau menyetubuhinya!?”. Jawab mereka, “Ya”. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku berkeinginan untuk melaknatnya dengan satu laknat yang akan masuk bersamanya ke dalam kuburnya (32) bagaimana dia mewarisinya padahal dia tidak halal baginya, bagaimana dia menjadikannya sebagai budak padahal dia tidak halal baginya!?” (33)
(Hadits Shahih riwayat Muslim 4/161)

Hadits Kedua
“Ertinya : Dari Abu Said Al-khudriy dan dia memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahawa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tawanan-tawanan perang Authaas (34), “Janganlah disetubuhi perempuan yang hamil sampai dia melahirkan dan yang tidak hamil sampai satu kali haid”
(Hadits riwayat Abu Dawud (no.2157), Ahmad (3/28, 62, 87) dan Ad-Darimi (2/171))

Hadits Ketiga
“Ertinya : Dari Ruwaifi Al-Anshariy –dia berdiri di hadapan kita berkhutbah-, dia berkata : Adapun sesungguhnya aku tidak mengatakan kepada kamu kecuali apa-apa yang aku dengan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada hari Hunain, beliau bersabda, “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air (mani)nya ke tanaman (35) orang lain –yakni menyetubuhi perempuan hamil- (36) Dan tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyetubuhi perempuan dari tawanan perang sampai perempuan itu bersih. Dan tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mejual harta rampasan perang sampai dibahagikan. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menaiki kenderaan dari harta fa’i (37) kaum muslimin sehingga apabila binatang tersebut telah lemah dia baru mengembalikannya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia memakai pakaian dari harta fa’i kaum muslimin sehingga apabila pakaian tersebut telah rosak dia baru megembalikannya”
(Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 2158 dan 2150) dan Ahmad (4/108-109) dengan sanad Hasan)

Dan Imam Tirmidzi (no. 1131) meriwayatkan juga hadits ini dari jalan yang lain dengan ringkas hanya pada bahagian pertama saja dengan lafadz.

“Ertinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia menyiramkan air (mani)nya ke anak orang lain (ke anak yang sedang dikandung oleh perempuan yang hamil oleh orang lain)”.

Inilah yang menjadi madzhabnya Imam Ahmad dan Imam Malik. Dan madzhab yang kedua ini lebih kuat dari madzhab yang pertama dan lebih mendekati kebenaran. Wallahu a’lam.

Adapun masalah nasab anak dia dinasabkan kepada ibunya tidak kepada lelaki yang menzinai dan menghamili ibunya dan tidak juga kepada lelaki yang menikahi ibunya setelah ibunya melahirkannya.

Bacalah dua masalah di kejadian yang ke lima ini di kitab-kitab.
(1). Al-Mughni Ibnu Qudamah Juz 9 hal. 561 s/d 565 tahqiq Doktor Abdullah bn Abdul Muhsin At-Turkiy.
(2). Al-Majmu Syarah Muhadzdzab Juz 15 hal. 30-31
(3). Al-Ankihatul Faasidah (hal. 255-256))
(4). Fatawa Al-Islamiyyah Juz 2 halaman 353-354 dan 374-375 oleh Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin dan lain-lain.

(6). Kejadian Yang Keenam : Apabila terjadi akad nikah yang fasid (rusak) atau batil
Apabila terjadi akad nikah yang fasid (rusak) atau batil yaitu setiap akad nikah yang telah diharamkan syara’ (agama) atau hilang salah satu dari rukunnya sehingga akad nikah tersebut tidak sah seperti ;
1). Nikah dengan mahram (38)
2). Nikah dengan ibu susu atau saudara sepersusuan
3). Nikah dengan isteri ayah atau isteri anak atau mertua atau dengan anak tiri
4). Nikah mu’tah
5). Nikah lebih dari empat orang isteri
6). Nikah dengan isteri orang lain
7). Nikah dengan perempuan yang sedang ‘iddah
8). Nikah seorang muslim dengan wanita selain dari wanita ahlul kitab (Yahudi dan Nashara)
9). Nikah tanpa wali
10). Nikah sir (rahasia) tanpa saksi
11). Mengumpulkan dua orang bersaudara dalam satu perkahwinan
12). Mengumpulkan seorang perempuan dengan makciknya dalam satu perkahwinan

Dan lain-lain dari perkahwinan yang rosak menurut agama. (39)

Maka apabila keduanya tidak mengetahui fasid dan batilnya akad keduanya, maka keduanya tidak berdosa dan tidak dikenakan hukuman dan anak dinasabkan kepada ayahnya seperti pernikahan yang sah meskipun keduanya langsung dipisahkan kerana fasidnya akad keduanya. Dan disamakan dengan orang yang tidak mengetahui yaitu orang yang mendapat fatwa tentang sahnya nikah yang fasid dan batil tersebut sebagaimana banyak terjadi pada zaman kita sekarang ini khususnya mengenai nikah mut’ahnya kaum Syi’ah rafidhah (40). Adapun apabila mereka telah mengetahui tentang fasid dan batilnya akad nikah tersebut, maka tidak syak lagi tentang dosanya dan wajib bagi mereka dikenakan hukuman kemudian anak tidak dinasabkan kepada ayahnya.

Masalah : Bagaimana hukumnya apabila yang mengetahui tentang haramnya perkahwinan tersebut hanya salah satu pihak, sama ada pihak lelaki atau pihak perempuan?.

Jawapanya : Maka hukumnya terkena kepada yang mengetahui tidak kepada yang tidak mengetahui. Kalau yang mengetahui hukumnya itu pihak lelaki, maka dia berdosa dan dikenakan hukuman dan anak tidak dinasabkan kepadanya. Kalau yang mengetahui hukumnya itu pihak perempuan, maka dia yang berdosa dan dikenakan hukuman kepadanya dan anak tetap dinasabkan kepada ayahnya (pihak lelaki). Wallahu a’lam.

(Disalin dari kitab Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam Jakarta, Cetakan I – Th 1423H/2002M)
__________
Foote Note
(29).Perempuan ini adalah seorang tawanan perang yang tertawan dalam keadaan hamil tua.
(30). Disini ada lafadz yang hilang yang takdirnya beliau bertanya tentang perempuan tersebut dan dijawab bahawa perempuan tersebut adalah tawanan si Fulan.
(31). Hadits yang mulia ini salah satu dalil dari sekian banyak dalil tentang halalnya menyetubuhi tawanan perang meskipun tidak dinikahi. Kerana dengan menjadi tawanan dia menjadi milik orang yang menawannya atau milik orang yang diberi bahagian dari hasil ghanimah (rampasan perang) meskipun dia masih menjadi isteri orang (baca ; orang kafir). Maka dengan menjadi tawanan fasakhlah (putuslah) nikahnya dengan suaminya. (Baca Syarah Muslim Juz 10. hal.34-36).
(32). Hadits yang mulia ini pun menjadi dalil tentang haramnya menyetubuhi tawanan perang yang hamil sampai selesai iddahnya yaitu sampai ia melahirkan dan yang tidak hamil ber’iddah satu kali haid sebagaimana ditunjuki oleh hadits yang kedua insya Allah.
Berdasarkan hadits yang mulia ini madzhab yang kedua mengeluarkan hukum tentang haramnya menikahi dan menyetubuhi perempuan yang hamil oleh orang lain sampai ia melahirkan.
(33). Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana dia mewarisinya … dan seterusnya”, yakni bagaimana mungkin lelaki itu mewarisi anak yang dikandung oleh perempuan tersebut padahal anak itu bukan anaknya. Dan bagaimana mungkin dia menjadikan anaknya itu sebagai budaknya padahal anak itu bukan anaknya. Wallahu a’lam.
(34). Authaas adalah satu tempat di Thaif
(35). Ke rahim orang lain yang telah membuahkan anak
(36). Penjelasan ini imma dari Ruwaifi atau dari yang selainnya
(37). Harta fa-i harta yang didapat oleh kaum muslimin dari orang-orang kafir tanpa peperangan. Akan tetapi imam kaum kuffar menyerah sebelum berperang atau mereka melarikan diri meninggalkan harta-harta mereka.
(38). Mahram ialah setiap perempuan yang haram dinikahi seperti ibu, saudara, anak, bibi, dan lain-lain.
(39). Baca Al-Ankihatul Faasidah
(40). Bacalah risalah kami tentang masalah ini dengan judul Nikah Mut’ah = Zina

Satu Tanggapan

  1. bagiamana hukumnya bagi orang yang menjadi saksi atau orang yang menikahkan orang yang berjina di hadapan
    Allah ? padahal Allah melaknat mereka !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: